Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Misteri Hary Tanoe dan Anthony Salim

Written By GOJEK #GolekRejeki on Selasa, 29 Januari 2013 | 08.14

Bob Broadfoot, pengelola perusahaan konsultan PERC (Political & Economic Risk Consultancy) sangat antusias mencari tahu tentang sepak terjang Anthony Salim. Rasa ingin tahunya itu mencuat ketika dalam Pemilu 1987, nama Anthony muncul dalam daftar calon anggota DPR/MPR-RI.
Bagi konsultan asal Amerika Serikat itu, masuknya seorang pebisnis dalam dunia politik Indonesia (pada waktu itu), sangat menarik. Pebisnis papan atas, bila menjadi anggota parlemen, sebagai law maker dapat menciptakan berbagai Undang-undang. Indonesia menurut dia sedang mengalami perubahan, terminologi populer untuk kata yang kemudian dikenal menjadi transformasi.

Perubahan itu bakal terjadi mengingat Anthony merupakan pewaris konglomerasi Salim Group. Ke arah mana perubahan itu, sangat menarik untuk diantisipasi, sebab Anthony berasal dari etnis minoritas Tionghoa.
Kepada korespondennya di Indonesia, Broadfoot yang berbasis di Hong Kong meminta supaya laporan tentang sosok Anthony Salim lebih diperdalam dalam jurnal "Asia Intelligence". "I like that story", kata Bob kepada korespondennya, melalui sambungan telepon internasional Hong Kong-Jakarta, yang pada waktu itu biaya percakapannya masih tergolong mahal.

Akan tetapi Bob terpaksa harus kecewa. Sebab ceritera tentang masuknya Anthony Salim di dunia politik, tak bisa dikembangkan lagi oleh korespondennya. Selain Anthony kurang suka melayani wawancara pers, pada saat itu kebebasan pers di Indonesia masih sangat terbatas. Masuknya Anthony di politik, juga bukan karena ambisinya.

Ceritera Anthony Salim dan bisnis serta perpolitikan Indonesia, merupakan sebuah kisah lama. Akan tetapi dari sudut pengetahuan sosial, tentang bagaimana sikap orang kaya yang "low profile", menjadi relevan. Terutama sebagai sebuah pembanding dan pembelajaran, setelah sikap orang kaya sekaliber Hary Tanoe yang "high profile", merebak.

Bagi Anthony setelah menjadi orang kaya, tidak harus lebih dikenal. Juga tidak harus bersikap arogan. Anthony sudah sejak tiga dekade lalu dipantau sebagai salah seorang pengusaha terkaya di Indonesia. Tetapi hingga sekarang, Anthony tidak pernah mau tampil dengan label itu.

Anthony ataupun keluarganya jauh lebih awal memiliki stasiun TV swasta, Indosiar. Bandingkan dengan Hary Tanoe yang berkiprah belakangan. Tak pernah terjadi Anthony Salim sebagai pemilik Indosiar tampil seperti cara yang dilakukan bos RCTI saat ini.

Kontras dengan Hary Tanoe, sebisa mungkin di semua acara RCTI yang menarik, semisal Indonesian Idol, kehadirannya wajib disiarkan. Dan ketika presenter menyebut namanya harus dengan sapaan panjang sekali.
Anthony tidak pernah terlihat memanfaatkan layar kaca Indosiar untuk mempromosikan atau mencitrakan dirinya. Beda banget dengan Hary Tanoe yang baru menguasai RCTI di 2001-an, yang konon bisa begitu berkat bantuan Anthony Salim.

Bagi Anthony Salim nampaknya berlaku hukum bahwa semakin dia dikenal, semakin besar kemungkinan dia dimusuhi. Semakin dia mencitrakan dirinya sebagai sosok yang dapat dipercaya, semakin ragu orang mempercayainya. Paradoks dengan Hary Tanoe.
Sikap Anthony yang terkesan tidak mau dikenal orang, justru melahirkan banyak spekulasi. Anthony dan ayahnya yang sudah kaya raya misalnya kelihatan khawatir kalau kedekatan mereka dengan kekuasaan, terekspose. Khawatir akan muncul semacam kecemburuan sosial. Mereka khawatir ketidak sukaan terhadap etnis minoritas Tionghoa yang selalu menjadi kelompok marginal, bisa meledak kembali.

Lagi-lagi sangat berbeda dengan Hary Tanoe. Di era SBY, begitu menjadi Presiden pada Oktober 2004, Hary Tanoe langsung merapat ke Istana. Hary tidak segan-segan memperlihatkannya.
Gara-gara caranya merapat ke kekuasaan, terlalu mencolok, Hary Tanoe sempat digugat oleh Eddy Sujana, pengacara yang juga seorang aktifis Islam. Eggy menuduh Hary Tanoe sudah memberikan hadiah mobil Jaguar kepada Andi Mallarengeng dan Dino Pati Djalal, dua orang kepercayaan Presiden SBY di awal pemerintahannya.

Hary Tanoe tentu saja membantahnya. Demikian pula Andi dan Dino. Tapi setelah membantah, Hary Tanoe tetap berusaha menempel Presiden. Caranya dengan memanfaatkan eksistensi Radio Trijaya FM Network yang belum lama diakuisisinya. Sekali dalam minggu Trijaya menghadirkan talk show live dengan SBY di Istana.

Kontan saja pihak RRI, radio publik milik pemerintah protes. Media lainnya pun ikut mempersoalkan kebijakan Presiden SBY yang dianggap memberi perlakuan istimewa kepada Hary Tanoe. Hary tidak bergeming.
Pada intinya, tuduhan Eggy Sujana dan protes pihak RRI hanya bersumber pada satu isu. Yaitu mereka tidak senang dengan cara Hary Tanoe. Yang sering memperlihatkan kepada publik bahwa dia sangat dekat dengan kekuasaan.

Kembali ke awal cerita tentang sikap Anthony menjadi semacam pembanding. Belakangan masyarakat mulai sadar bahwa melihat Anthony Salim dan Hary Tanoe harus dengan kacamata yang tajam dan berbeda.
Jangan sama ratakan semua pengusaha seperti Hary Tanoe. Jangan pula pukul rata bahwa semua WNI keturunan Tionghoa, berperangai seperti Hary Tanoe. Yang satu ini memang agak lain.
Anthony Salim misalnya dikenal sebagai orang yang sangat cerdas. Kecerdasannya antara lain tercermin dari cara dia membangun jaringan di birokrasi pemerintahan. Tapi yang mengerjakan pembukaan jaringan itu, orang lain.

Anthony antara lain merekrut seorang pemuda bernama Fianto, yang tugasnya hanya untuk bermain golf. Fianto setiap hari harus bisa bermain golf dengan anggota TNI AD, TNI AL, TNI AU dan Polri yang sudah berpangkat perwira menengah (Mayor, Letkol dan Kolonel).
Pilihan terhadap para anggota dari semua angkatan itu, atas pertimbangan, para perwira itu, kelak menjadi pejabat penting di semua lini birokrasi Indonesia. Hasilnya sepuluh atau duapuluh tahun kemudian ketika para perwira itu sudah menduduki posisi-posisi penting, mereka sudah menjadi sahabatnya Fianto.
Yah sahabat Fianto berarti sahabat Anthony. Karena Fianto bekerja atas misi dan penugasan Anthony Salim. Akhirnya jika Anthony ingin bertemu atau bersahabat, dengan mudahnya Fianto dapat mengatur pertemuan. Jadilah mereka sebagai sahabat yang saling menghargai.

Kepada penulis, Fianto bertutur bahwa ia dan bossnya (Anthony Salim) memiliki hubungan baik yang berkualitas dengan seluruh petinggi dari semua matra. Berkualitas, sebab cara Anthony merawat hubungannya dengan para jenderal dari semua matra itu, sama dengan ketika mereka belum menjadi perwira tinggi bahkan setelah tidak lagi punya jabatan.
Anthony ingin punya persahabatan yang langgeng. Sejauh mungkin menghindari konflik. Inilah yang menjadi pertanyaan sekaligus misteri di antara Anthony Salim dan Hary Tanoe. Sebab ada yang bilang, Hary Tanoe itu murid sekaligus kepercayaan Anthony Salim.

Atas dasar itu, maka Hary Tanoe diberi kesempatan membeli dan memimpin PT Bimantara Citra dan grup. Tapi kelihatannya tidak begitu. Kalau betul, Hary Tanoe dibantunya Anthony juga pasti atau semestinya membantunya dengan membekali kiat bagaimana menciptakan dan merawat kawan dalam persahabatan. Seperti kata sebuah pepatah tua: "Seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak !".
Akan tetapi boleh jadi Anthony sebagai "suhu" sengaja tidak memberikan semua ilmunya kepada Hary Tanoe. Sebab mungkin sang suhu sadar, Hary Tanoe merupakan murid yang bisa menyerang balik sang suhu. Maka ada ilmu yang tidak diturunkannya ke Hary Tanoe.

Anthony yang prudent, mungkin memang tak percaya pada muridnya ini.

(Opini: Derek Manangka, www.inilah.com 29 Januari 2013)
08.14 | 0 komentar

Marzuki: Partai Rekrut Artis, Partai Gagal

Ketua DPR Marzuki Alie menilai partai politik (parpol) yang merekrut artis untuk maju sebagai calon legislatif (caleg) dianggap sebagai partai gagal dalam membangun kaderisasi.

"Partai yang merekrut artis itu partai yang gagal di dalam membangun kader. Kecuali artis itu sudah kaderisais ikut penjenjangan ikut pembinaan di partai. Tapi tidak serta merta, tahu-tahu jadi caleg. Itu terus terang akan jadi masalah saat duduk di DPR," kata Marzuki di Gedung DPR, Selasa (29/1/2013).

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu mengatakan, partainya merekrut caleg melalui kaderisasi partai. "Kita dari dulu tidak serta merta jadikan artis duduk sebagai caleg, memang yang dari dulu sudah jadi kader," ucap Marzuki. (inilah.com)
07.25 | 0 komentar

Yang Tersembunyi dari Surya Paloh

Written By GOJEK #GolekRejeki on Senin, 28 Januari 2013 | 08.16

Bagi sementara kalangan keputusan Surya Paloh menjadi Ketua Umum Partai Nasdem, merupakan langkah yang tidak bijaksana. Surya dinilai bersikap inkonsisten dan berjiwa tidak demokratis. Padahal sikap konsisten dan gaya demokrat itulah yang selalu dijual Surya melalui orasi-orasinya.

Rasa percaya pada Surya Paloh membesar, setelah ia memberi mandat kepada Rio Patrice Capella, seorang aktifis berusia muda, sebagai Ketua Umum. Aktifis-aktifis yang berusia muda pun banyak tertarik dan bergabung dengan Nasdem.
Tapi belakangan Surya (61 tahun) justru mau menggunakan sendiri panggung yang diimpikan anak muda. Mandat kepada Capella, simbol generasi muda, dimintanya kembali. Sejak itu Surya dianggap para penentangnya mengingkari janjinya sendiri. Pengingkaran itulah yang dijadikan alasan pengunduran diri oleh sejumlah anggota.
Sebagai orang yang pernah menjadi salah seorang stafnya selama 13 tahun (1986-1999) dan sebelum itu sudah mengenalnya melalui persahabatan selama kurang lebih 8 tahun, saya bisa memahami langkah Surya Paloh yang mendadak berubah.

Surya berubah, karena tidak mudah bagi dia untuk percaya bahwa visi kebangsaannya yang pluralis, sudah benar-benar dimengerti apalagi dihayati oleh generasi yang lebih muda dari dia.
Surya juga khawatir, kalau akhirnya dia dikhianati oleh orang yang dia percaya. Sehingga misi restorasi Partai Nasdem pada akhirnya menjadi tidak jelas. Pasalnya, selama kurang lebih 40 tahun berkarir di politik, bukan sekali dua kali Surya dikhianati oleh orang yang dia anggap satu visi dengannya.
Oleh sebab itu sebagai pendatang baru dalam Pemilu Legislatif, Surya tidak ingin membuat langkah keliru. Peluang Nasdem menjadi pemenang, terbuka. Tapi kalau hanya mengandalkan kampanye iklan gratis, tidak ada yang bisa menjamin kemenangan.

Surya tetap berhitung tentang kekuatan Golkar. Sebab partai yang dipimpin Aburizal Bakrie - pengusaha kaya ini, juga memiki TVOne, media yang dikenal sangat cerdik mengemas berita politik.
Surya juga berhitung tentang kekuatan Golkar tempat dimana dia menghabiskan waktu selama emat dekade. Jaringan Golkar yang sudah terbentuk sampai ke tingkat pedesaan, sebuah kekuatan yang sangat dipahami oleh Surya Paloh. Sementara, kalkulasi serupa belum tentu dimiliki oleh pengurus lainnya, termasuk yang berlabel pakar!

Unsur lain yang dihitung Surya Paloh, kekuatan Partai Demokrat. Surya percaya, partai ini memiliki amunisi yang besar untuk segala kebutuhan. Tentu Surya juga berhitung partai-partai lainnya.
Tetapi satu hal yang tidak bisa diingkari, di usianya yang sudah tergolong tua, Surya tidak pernah mendapat peluang untuk mengaktualisasikan visi politik dan wawasan kebangsaannya secara utuh. Gerakannya selalu terganjal karena posisinya bukan penentu sentral.

Sehingga keputusannya merebut jabatan Ketua Umum Partai Nasdem, patut dilihat sebagai refleksi dari latar belakang di atas. Bukan sekali dua kali dia dijegal. manakala ia ingin menjadi seorang tokoh. Dan yang dia rasakan penjegalan itu terjadi karena visi dan wawasan kebangsaannya, dianggap berbahaya bagi eksistensi para elit yang berkuasa.

Dari pidato dan pernyataan-pernyataan spontannya, Surya Paloh sebetulnya seorang Soekarnois. Ironisnya selama ia berkiprah, partai yang dijadikannya moda perjuangan, merupakan kekuatan politik non-Soekarnois atau yang melakukan de-Soekarnoisasi. Sehingga visi Surya tidak kompatibel di Golkar.
Di era Orde Baru yang hanya mengizinkan tiga partai untuk eksis: PPP, Golkar dan PDI, Surya Paloh tidak punya pilihan lain, kecuali ke Golkar. Dia tidak bisa memilih PPP, karena ibarat baju, ukurannya tidak sesuai dengan posturnya. PPP sebagai partai Islam, dia anggap sektarian sementara Surya seperti halnya Soekarno merupakan seorang nasionalis-pluralis.

Bahkan ketika PPP dipimpin oleh Ismael Hasan Metareum, putera asal Aceh seperti Surya, ia tetap tidak tertarik bergabung. Sementara PDI oleh Surya dilihat sebagai partai nasionalis yang dibonsai oleh rezim Orde Baru. Di atas kertas, PDI menampung sejumlah Soekarnois. Tapi kebijakan itu hanya sebuah aksesoris demokrasi.
Saat Sidang Umum MPR-RI 1988 digelar di Senayan, Surya menemui Ketua Umum PDI, Soerjadi di Hotel Kartika Chandra, Jl.Gatot Subroto, Jakarta. Di tempat konsinyering seluruh wakil rakyat yang akan memilih Presiden RI, Surya mendorong Soerjadi agar PDI berani mengajukan calon Presiden alternatif. Jangan Soeharto lagi.

Lagi pula ketika itu, Ketua Umum PPP, John Naro SH sudah menyatakan akan mencalonkan diri. Jadi Soerjadi tidak sendirian. Namun PDI ketika itu sebetulnya merupakan "fraksi Golkar" yang disembunyikan.
Ke-golkar-an PDI tercermin dari hadirnya Sekjen, Nico Darjanto. Tokoh Katolik ini disuplai oleh CSIS - lembaga yang nota bene merupakan dapur politik Golkar. Lembaga pengkajian yang didirikan Jenderal Ali Murtopo ini dikenal sebagai "think tank" Orde Baru, rezim yang menumbangkan Soekarno. CSIS sendiri, secara de facto dipimpin Liem Bian Kie dan Liem Bian Koen atau yang lebih dikenal Wanandi Bersaudara.
Lalu Jusuf dan Sofyan Wanandi (Wanandi Brothers) bersama Soerjadi merupakan eksponen 66 yang meruntuhkan kekuasaan Soekarno.

Ketika di awal 1986, Soerjadi dijadikan Ketua Umum PDI oleh Mendagri Supardjo Rustam, Soerjadi sedang menduduki posisi Presiden Direktur PT Aica Aibon. Perusahaan lem perekat yang berkantor di Wisma Nusantara ini, saham mayoritasnya dimiliki keluarga Wanandi tadi.
Surya Paloh baru ngeh belakangan tentang percaturan politik dan bisnis seperti itu, satu hal yang merupakan pengalaman paling berharga. Tumbangnya kekuasaan Golkar bersamaan dengan jatuhnya rezim Orde Baru, merupakan kesempatan baru bagi Surya.
Itulah yang mendorong Surya ikut bersaing dalam konvensi Partai Golkar yang digelar 2004. Tapi di konvensi yang menyaring calon presiden itu, Surya Paloh hanya menduduki tempat keempat di antara lima kandidat.

Ketika SBY akhirnya terpilih sebagai Presiden periode 2004-2009, Surya merapat ke SBY. Surya melihat SBY sebagai sosok yang bisa memperbaiki Indonesia. Tak perduli apapun partainya.
Menjelang Munas Golkar di Bali, Surya mendeklarasikan pencalonanya untuk posisi Ketua Umum DPP Partai Golkar. Surya sebelumnya dikabarkan meminta dukungan dari SBY. Hingga dua atau tiga hari menjelang Munas, nama Surya masih sangat kuat. Terutama karena kabar dukungan SBY tersebut.
Sejarah politik Surya Paloh berubah seketika sewaktu Jusuf Kalla mengumumkan pencalonannya untuk posisi yang sama. Jusuf Kalla yang sudah menduduki posisi Wapres, juga mengklaim bahwa pencalonannya atas restu Presiden SBY.

Bagi Surya pencalonan Jusuf Kalla yang juga direstui SBY, sama dengan "penghianatan" Presiden SBY terhadap dirinya. Surya akhirnya memilih mundur, lalu mendukung Jusuf Kalla. Selama 5 tahun kepemimpinan Jusuf Kalla di Golkar, Surya terus mempersiapkan diri.
Tapi di Munas Golkar Riau, November 2009, Surya dikalahkan oleh Aburizal Bakrie. Yang menyakitkan Surya Paloh, bukan soal kekalahan dari Ical. Tetapi soal keberpihakan Presiden SBY.
Konon SBY menginstruksikan semua jajaran untuk menjadikan Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum. Sehingga bagi Surya, dalam lima tahun dia sudah dua kali "dikhianati" oleh seorang Presiden, seorang pemimpin bangsa.

Menghadapi Pemilu 2014, Surya menjadi orang yang tidak bisa percaya begitu saja kepada setiap sahabat. Wajar kalau Surya maju sebagai orang yang paling menentukan di Partai Nasdem.

(opini Derek Manangka di www.inilah.com)
08.16 | 0 komentar

Total Tayangan Halaman