Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Kotak Kosong dan Golput

Written By Blogger on Minggu, 14 Juli 2013 | 23.49

SALIM (50) , sosok yang luar biasa. Sebagai calon petahana (incumbent) dalam pilihan kepala desa di Sumberejo Kecamatan Pabelan Kabupaten Semarang, ia kembali mengalahkan kotak kosong dengan meraih suara 2.941, adapun kotak kosong 102, rusak 99, dengan daftar pemilih tetap (DPT) 3.413.
Itu kebalikan dari Tahanta, calon petahana justru dikalahkan oleh kotak kosong yang meraih 1.240, Tahanta 889, rusak 42, dari DPT 2.986, yang datang memilih 2.171. Meskipun pemilihan sudah diulang sampai kali keempat, tetap saja yang menang kotak kosong. Yang terakhir itu terjadi di Desa Dlingo Kecamatan Mojosongo Boyolali.

Dua peristiwa itu memberi pesan kepada kita tentang arti pentingnya figur calon di mata para pemilih. Terutama sejalan dengan sistem pemilu langsung yang sudah terlaksana sekali di Tanah Air. Terlebih lagi tentang calon untuk lembaga legislatif. Di Senayan ataupun provinsi dan kabupaten/ kota, lembaga itu selalu ingar-bingar. Diharubirukan oleh kasus korupsi yang berkesan memunculkan sosok-sosok yang makin berani, kalau tak nekat ya serakah, serta  terlibat kian banyak.

Bahwa korupsi di sektor eksekutif juga dalam kondisi serupa, sudah bukan rahasia lagi. Namun legislatif disorot tajam karena lembaga itu seharusnya justru mengawasi kerja eksekutif. Khususnya dalam penggunaan anggaran lewat hak budget. Tentu bisa dibayangkan akibat buruknya terhadap kehidupan bangsa dan negara ini ketika yang bertugas mengawasi malah gudang koruptor. BBM, daging sapi, dan bawang putih jadi mainan yang bikin hidup rakyat kecil di negeri ini tetap kembang-kempis.

Angka Golput
Tak pelak lagi kalau angka golput pun makin meningkat. Dalam pilgub di Jateng angka itu sekitar 42 persen. Angka serupa terjadi di Jabar, DKI Jakarta, dan Sumatera Utara. Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), masyarakat tak memercayai politikus tidak mengejutkan lagi. Survei itu dilakukan di 33 provinsi yang melibatkan 1.200 responden pada 3-5 Juli 2013. Hasilnya adalah 51,5% responden tak percaya komitmen moralitas politik para politikus, dan hanya 37,5% yang masih percaya. 

Menurut LSI ada tiga penyebab menurunnya kepercayaan tersebut. Yaitu publik menilai tidak banyak politikus yang bisa dijadikan teladan bagi masyarakat; kuatnya persepsi publik bahwa banyak politikus hipokrit; publik melihat semakin lebar jarak antara keyakinan serta ajaran agama dan perilaku politikus.
Politikus, parpol, serta calon gubernur dan calon bupati bisa tak peduli tentang angka golput yang terus merambat naik. Pasalnya berapa pun suara yang mereka peroleh, asal lebih unggul dibandingkan dengan pesaing, kursi empuk pasti diraih. Tak peduli seberapa pun besar kadar keunggulan itu. Contoh pemenang pemilihan gubernur Bali beberapa waktu lalu, selisih 1.000 suara saja tak genap.

Dalam hal hak pilih, banyak ulama menekankan pentingnya rakyat berperan serta memilih pemimpin sebagai bagian dari tanggung jawab dalam berbangsa dan bernegara. Ulama lain ada pula yang berpendapat tak ikut  memilih pun merupakan tanggung jawab besar, ketika yang terpilih koruptor. Padahal  sejak reformasi, rakyat di negeri ini bagai terus dihujani pemilu.

Di Temanggung, setelah memilih cagub-cawagub, rakyat sibuk memilih cabup-cawabup, kemudian pada lebih dari 20 desa memilih kepala desa. Di Banyumas pemilihan cabup-cawabup dulu, lalu memilih cagub-cawagub, kemudian di puluhan desa memilih lurah. Itu terjadi di seluruh Tanah Air. Di ratusan kabupaten/ kota dan ribuan desa. Berapa triliun rupiah habis untuk keperluan itu?

Muncul gagasan pemilu disederhanakan. Pemilihan gubernur, bupati dan wali kota dilakukan serentak dengan pemilihan presiden. Sebagai aparat pusat, gubernur diangkat dan legislatifnya dihapus. Selain sederhana juga menghemat biaya. 

Itulah fenomena di negeri tercinta ini. Ribut berpolitik melulu. Selagi kian tertinggal dari negeri tetangga pada bidang ekonomi, elite kita malah terus saling sodok dalam konflik berkelanjutan. Bangsa ini seolah-olah terjebak dalam labirin reformasi. Rakyat yang akan memilih pemimpinnya lagi pada tahun depan, cuma bisa berharap elite politik bangsa ini, khususnya politikus muda, sadar dan membawa Pemilu 2014 ke jalan reformasi yang benar, yang dulu dicanangkan. (10)
 
— Sutrisna, wartawan senior Suara Merdeka
(Sumber: Suara Merdeka )
23.49 | 2 komentar

Satu Calon Walikota Tangerang Tak Lolos Verifikasi

VIVAnews - Satu kandidat bakal calon walikota Tangerang gugur dalam uji verifikasi Komisi Pemilihan Umum Kota Tangerang. Sedangkan empat bakal calon lainnya lulus.

Hal ini disampaikan Ketua KPU Kota Tangerang Syafril Elain usai rapat pleno persyaratan administrasi yang berakhir pada 22.00, Sabtu 13 Juli 2013. “Bakal calon yang tak memenuhi persyaratan adalah pasangan Ahmad Marju Kodri (AMK)–Gatot Suprijanto, ” kata Syafril. AMK tak lolos karena kekurangan dukungan.

Sedangkan keempat pasang yang memenuhi persyaratan adalah Arief R Wismansyah (Wakil Wali Kota Tangerang)–Sachrudin (Camat Pinang, Kota Tangerang) yang diusung Partai Demokrat, Partai Gerindra, dan PKB.

Lalu pasangan Abdul Syukur (Ketua DPD Golkar) - Hilmi Fuad (Ketua DPD PKS Kota Tangerang) yang diusung Partai Golkar dan PKS.

Pasangan Dedy S Gumelar alias Miing (anggota DPR RI)- Suratno Abubakar (Ketua DPD PAN Kota Tangerang) diusung PDI Perjuangan dan PAN.

Pasangan ketiga, Harry Mulya Zein (HMZ/Sekda Kota Tangerang)-Iskandar Zulkarnain (Ketua PPP Kota Tangerang/Anggota DPRD Kota Tangerang) diusung Partai Hanura, PPP dan PKNUI.

"Hasil klarifikasi kami DPC Hanura mendukung HMZ-Iskandar, sedangkan DPP Hanura tidak jelas. Tidak ada sikap,” katanya. Selanjutnya, keempat pasangan calon itu akan menjalani pemeriksaan kesehatan pada 14-20 Juli 2013.
23.35 | 0 komentar

Golkar: Pertemuan Ical dan Surya Paloh Jadi Modal Koalisi

Written By Blogger on Kamis, 11 Juli 2013 | 03.32

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Nurul Arifin memiliki pendapat lain tentang pertemuan antara Ketua Umum Partai Golkar Aburizal "Ical" Barkrie dengan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dalam acara buka puasa bersama di kantor DPP Partai Nasdem, Rabu (10/7/2013). Menurut Nurul, pertemuan itu adalah modal koalisi bagi Partai Golkar dalam Pemilu 2014 mendatang.

"Kemarin kan rekonsiliasi, kalau secara politik, pastinya akan ada lobi ke sana, Nasdem pun diprediksi lolos PT (parliamentary threshold). Jadi, modal koalisi ke depan," ujar Nurul di Kompleks Parlemen, Kamis (11/7/2013).

Nurul melihat dengan datangnya Ical ke acara buka puasa bersama yang diadakan Surya Paloh menandakan hubungan kedua politisi ini mencair. Pasalnya, pada tahun 2009 silam, hubungan Ical dan Surya Paloh sempat renggang. Surya Paloh akhirnya memilih hengkang dari Partai Golkar dan mendirikan organisasi massa Nasdem yang menjadi cikal bakal pendirian Partai Nasdem.

"Petanya kelihatan memang, mulai ketahuan, keluarga besar kuning berkoalisi, sekarang kan sudah ada magnetnya. Saya bersyukur, SP dan ARB (Ical) hubungannya sudah sudah cair. Semoga ini bukan cuma pertemuan buka puasa saja, bisa berharap dalam koalisi," tuturnya.

Ical sambangi Surya Paloh

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal "Ical" Bakrie menyempatkan diri hadir dalam acara buka bersama di DPP Partai Nasdem pada Rabu (10/7/2013). Surya Paloh menyatakan, pihaknya terbuka untuk berkoalisi dengan Partai Golkar pada Pemilu 2014. Hal senada dikatakan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie saat menghadiri acara buka puasa bersama di Kantor DPP Partai Nasdem, Rabu (10/7/2013).

"Kita bersahabat. Kenapa tidak harus saling membantu? Kalau Ical minta bantuan, saya akan siap membantu. Kalau tidak sanggup, ya, gimana. Bukan tidak mungkin komunikasi politik dengan saling menghargai," kata Surya.

Ical pun menjawab bahwa kemungkinan untuk berkoalisi dengan Nasdem selalu ada.

"Jadi, bisa saja ada silaturahim politik. Untuk berkoalisi, bisa saja. Kenapa tidak?" kata Ical.

Surya mengaku telah lama menjalin persahabatan dengan Ical. Keduanya juga membantah bahwa pertemuan ini merupakan yang pertama setelah Surya meninggalkan Golkar dan mendirikan Nasdem.

"Padahal, esensi kehidupan, bukan musuhan. Ada baiknya silaturahim politik. Kita berbeda pandangan, kita tetap berkawan," kata Ical.

(www.kompas.com)
03.32 | 0 komentar

Usung Ical di Pilpres 2014, Golkar Masih Cari Mitra Koalisi

Jakarta - Dalam beberapa hasil survei, Golkar diprediksi akan memenangkan Pemilu dan bisa mengusung capres sendiri. Meski demikian, Golkar ternyata tetap akan mencari partner koalisi.

"Dalam mengusung capres dan cawapres, kita tetap akan utamakan koalisi. Koalisi itu sebuah keniscayaan," kata Wasekjen Golkar Tantowi Yahya kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (11/7/2013).

Tantowi mengatakan saat ini Golkar membuka diri untuk berkoalisi dengan semua partai, termasuk dengan partai yang berasaskan Islam. Namun semuanya dalam tahap penjajakan. Pembicaraan serius soal koalisi baru akan dilakukan setelah Pileg 2014.

"Kita tunggu setelah Pileg, jadi tahu peta politik seperti apa. Tapi kalaupun Golkar mencukupi presidential threshold-nya, tetap akan koalisi," ujarnya.

Mengenai kunjungan Aburizal Bakrie ke Surya Paloh, Tantowi mengatakan tak ada hal yang spesial dengan kunjungan itu. Dia juga menolak kunjungan itu disebut sebagai upaya Golkar untuk merangkul NasDem sebagai mitra koalisi.

"Kedua tokoh ini hanya memanfaatkan bulan suci Ramadan sebagai waktu yang tepat untuk melakukan silaturrahmi. Memperbaiki hubungan yang sudah baik selama ini," tutur anggota Komisi I DPR ini.
(detiknews.com)
03.21 | 0 komentar

PKS: Hanura Cerdik

Written By Blogger on Selasa, 02 Juli 2013 | 06.15

Ketua Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid menilai, langkah Partai Hanura menggaet konglomerat media Hary Tanoesoedibjo bergabung dengan Hanura kemudian menjadikannya calon wakil presiden (cawapres) mendampingi calon presiden (capres) Wiranto, cerdik.

"Itulah cerdiknya Partai Hanura," kata Hidayat di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (2/7/2013).

Hidayat pun memberi ucapan selamat kepada Wiranto dan Hary Tanoe, yang mendeklarasikan capres dan cawapres Hanura yang digelar hari ini.

"Kami hormati pilihan partai mencalonkan presiden. Kami tidak turut campur kebijakan internal, tentu mereka pertimbangkan masak-masak. Selamat berjuang," ujar Hidayat.

Mengenai capres dari PKS, Hidayat mengaku pihaknya tidak perlu terburu-buru.

"Kami menunggu selesai dulu RUU Pilpres. Serta menunggu hasil pemilu legislatif. Baru kami bicara siapa capres PKS," jelas Hidayat.  (http://www.tribunnews.com)

06.15 | 1 komentar

Total Tayangan Laman